Teknik Meloloh (Hand Feeding) Love Bird

Ternyata memang benar kalau semuah pekerjaan yang kita kerjakan atas dasar suka, hoby dan ihklas pasti di jamin gak ada rasa berat. 
Dan hal itu sudah terbukti pada diri saya, sejak awal bulan Januari ini memang terasa berat beban kerja setelah selesai jam kerja kantor saya harus menyambung lagi pekerjaan yang sudah di laksanakan oleh istri saya dari jam 07.00  s/d 16.30. Tapi bukan berarti saya termasuk kepada golongan Suami-suami Takut Istri bahkan sebaliknya istri saya yang memang memahami dan menjadi mengikuti hoby sang suami tercinta. ( walehhhh jadi ngelantur ke mana mana )
Pekerjaan yang saya maksud yaitu pekerjaan memberi makan anakan love bird ( piyekan ). Ada beberapa alasan mengapa anakan tidak di asuh oleh indukaanya :
1. Karena sang indukan sudah tidak mau lagi meloloh sang anak, hal tersebut bisa dikarenakan beberapa faktor :
- Indukan stress karena glodok (sangkar) terlalu sering di buka oleh sang majikan. ( ini juga tidak berlaku untuk semuah indukan )
- Indukan sudah birahi ( biasanya terpengaruh oleh extra voding makanan dan vitamin sehingga masa birahi lebih cepat ).
2. Untuk mendongkrak produktipitas bila kita angkat piyekannya dan di HF sang induk lebih cepat birahi.

Persiapan dan pelaksanaan HF
1. Makananan dan perlengkapannya.
Untuk  bahan makanannya saya menggunan voor burung ( fense ) dan bubur bayi Promina rasa beras merah. ( kalau untuk rasa yang lain belom pernah di coba ) dan untuk perlengkapannya menggunakan mangkok kecil (cangkir) dan sendok makan bayi serta siapkan kesabaran kita.
Untuk voor burung sebaiknya di haluskan supaya mudah saat diseduh dengan air panas.
Perbandingan antara voor dan promina 1 : 1 sendok makan bayi dan disesuaikan dengan umur piyekan.
Piyekan umur 1 bulan keatas sebaiknya sudah tidak di campur lagi dengan promina cukup voor saja.

 2. Waktu HF.
Inilah saya rasa pekerjaan yang sangat berat karena tidak mengenal waktu kalau sudah pada saat jam makan gak kenal waktu baik tengah malam pun harus kita kerjakan, disinilah berperannya hoby dan ihklas bila tidak di dasari rasa tersebut sudah pasti ogahhhhhhhhhhhhh tengah malam bangun hanya untuk memberi makan burung.
Untuk waktu pemberian makan pertama kita harus perhatikan tembolok piyekan apakah sudah kempes (kosong) atau belum biasanya bila uda kempes piyekan akan ribut. Bila sudah kempes baru kita HF dan ingat jam berapa kita kasih makan supaya kita bisa mengatur untuk jadwal berikutnya.
Dari pengalaman saya pribadi piyekan yang akan saya  HF ( angkat dari glodok ) dari mulai umur 10 hari keatas dan usahakan sebelum melek mata dikarenakan di umur tersebut piyekan sudah bisa mengangkat kepala dan bila piyekan sudah melek mata memerlukan tingkat kesabaran yang lebih tinggi lagi, kemungkinan besar di karenakan piyekan sudah bisa melihat waja indukannya.
Dan biasanya untuk interfal waktu HF yang saya gunakan :
- minggu pertama setiap 1 jam sekali 
- minggu kedua setiap 2 jam sekali
- minggu ketiga setiap 3 jam sekali
- minggu keempat setiap 4 jam sekali ( sudah tidak perlu promina )
minggu kelima setiap 4 jam sekali sertakan juga voor yang kering dan tidak di haluskan supaya memancing untuk belajar makan sendiri.
Biasanya di minggu ke 6 piyekan sudah payah untuk di HF karena sudah mulai sendiri, jangan lupa tambahkan menu makan yang berupa biji-bijian dan jagung.
Di minggu kedelapan sudah tidak perlu lagi di kasih voor cukup jagung dan biji-bijian karena sudah memasuki usia ekonomis.

3. Metode HF.
Untuk metode HF dari hasil pemantauan saya di lapangan dan hasil diskusi di forum-forum atau sharing dengan para senior senior yang telah terlebih dahulu breading LB ada beberapa cara metode HF :
- Menggunakan Sped ( jarum suntik ) yang sudah di modifikasi  mengganti jarumnya dengan pentil sepeda. Metode ini saya rasa perlu mempunyai keahlian khusus sebab pentil sepeda kita masukkan dari mulut sampai ke tembolok piyekan baru kita tekan untuk memasukkan makanannya.
Kelebihan metode ini cukup cepat dalam pemberian makanan.

Saya perna menggunakan methode ini namun tidak berhasil dan piyekan tewas hanya berumur 1 minggu setelah diangkat dari glodok. Dari hasil analisa dan shering dengan para senior kematian piyekan di karenakan ada beberapa hal diantaranya tenggorokan piyekan luka saat memasukkan pentil  sepeda atau kemungkinan kedua burung tesedak dan makanan masuk ke paru-paru. ( Soalnya jenazahnya blom sempat di otopsi )
- Meloloh, metode ini lebih umum di gunakan karena lebih mudah dan sampai dengan saat ini saya memakai metode ini cuman kita harus ekstra sabar. Kekurangan dari metode ini bila yang akan kita HF berjumlah banyak cukup memakan waktu yang lama karena kita harus bersabar mengikuti keinginan si piyekan. ( sesuai dengan gambar yang di bawah ini. )



Dari ulasan di atas merupakan pengalaman pribadi saya, jadi bisa saja berbeda dengan para breading breading yang lebih senior.

Selamat mencoba ......

3 komentar:

  1. punya ternak love bird y gan?keren. hehe
    mampir ke blog ane gan
    http://jatijprmebel.blogspot.com/
    terima kasih

    BalasHapus
  2. hehehe ... kecil kecilan mas bro.

    BalasHapus